Bel tanda berakhirnya ulangan akhir
semester II pun telah berbunyi, hingga mengejutkan Allan yang tengah tertidur.
Ia telah selesai mengerjakan ulangannya, ulangan matematika di hari terakhir bukanlah
suatu masalah bagi Allan, ia dapat mengerjakan semua soal dengan baik. Allan
adalah anak yang pintar. Ia segera mengumpulkan lembar jawabannya dan segera
keluar dari ruang 36.
Ada satu hal yang harus Allan lakukan
sekarang, yaitu bimbingan akhir semester bersama pastor pembimbing. Bimbingan
ini menentukan nasib setiap seminaris
apakah ia akan lanjut atau tidak. Allan menjadi sedikit tegang ia terus
memikirkan dia akan lanjut ke kelas poecis
atau akan berakhir di kelas syntaxissaja.
Satu persatu temannya di panggil ke
ruangan pastor pembimbing, sudah 30 orang di panggil dan semuanya lanjut dan
saat ini giliran Fandi dan masih ada 3 orang lagi yang belum dipanggil termasuk
Allan. Allan mearasa cemas karena si Fandi sudah 15 menit didalam ruang romo
pembimbing namun belum juga keluar, sedangkan yang lainnya hanya 5 menit saja.
Dan dugaan Allan betul, Fandi keluar dengan mata yang merah dan muka yang
sedih. Ternyata Fandi tidak lanjut, teman-teman Allan langsung mengerumuni
Fandi dan bertanya-tanya. Ketika Allan ingin mendekat namanya sudah dipanggil
oleh romo, hingga ia membatalkan niatnya untuk bertanya kepada Fandi. Dengan
cemas Allan masuk kedalam ruangan pastor pembimbing, “Silahkan duduk,” kata pastor.
“Allan apakah kamu yakin akan lanjut ke
kelas poecis?” Lanjut romo ketika
Allan baru saja duduk.
“Iya mo, saya yakin,” jawab Allan dengan
percaya diri.
“Saya hargai kepercayaan dirimu Lan,
tapi maaf Lan tingkah kamu sendiri
disini tidak mencerminkan bahwa kamu ingin lanjut ke kelas poecis. Jadi, kamu tidak dapat dilanjutkan ke kelas poecis,” kata romo dengan memberikan
sebuah surat kepada Allan. Kata-kata dari pastor tadi membuat Allan terdiam sejenak,
hingga Allan pun terbawa emosi yang ia berusaha tahan dan ia pun mulai berkata
lagi “Tingkah yang seperti apa yang membuat saya tidak lanjut, mo?” Tanya Allan lagi berusaha
membela diri.
“Apa kamu tidak sadar lan? Kamu sering
tidur di kelas saat pelajaran.”
“Saya tertidur karena saya merasa lelah
dan merasa bosan saat memperhatikan guru sedang menjelaskan mo, jadi itu hal
yang wajar menurut saya.” Jawab Allan sambil mengusap air matanya yang hampir
jatuh.
“Baiklah, itu memang hal yang wajar
bagimu karena memang kamu adalah anak yang pintar dan bisa menangkap pelajaran
dengan baik, tapi kamu telah membuat kesalahan yang fatal menjadi suatu kebiasaanmu
Lan, yaitu kamu sering keluar malam. Kamu tahu kan, kalau keluar malam tidak
dapat dimaafkan diseminari ini? Itulah penyebab utamanya kamu mengantuk di
kelas, kamu keluar tengah malam dan pulang sekitar jam 2. Banyak bukti dan
saksi yang saya miliki bahkan ada kesaksian dari temanmu sendiri Lan.” Jawab
pastor menjelaskan semuanya.
Allan pun terkejut karena pastor
mengetahui semuanya dan ia pun menjawab “Maafkan kesalahan saya mo, saya
berjanji akan merubah tingkah saya jika saya dilanjutkan di kelas poecis nanti.
Tolong berikan saya kesempatan yang kedua mo, tapi tolong jangan keluarkan saya,
kasihan ibu saya mo.”
“Maaf Lan keputusan tetaplah keputusan.
Saya bersama staf lain telah mempertimbangkan semua itu dan kamu tidak bisa
lagi tinggal disini. Mungkin kamu dapat berkembang dengan baik diluar sana,” kata
romo. Allan pun berdiri dan ingin keluar ruangan “Ingatlah! tunjukan bahwa kamu
ada perkembangan yang dapat kamu banggakan walapun kamu telah dikeluarkan. Dan
ini bukanlah akhir dari segalanya jika kamu memang ingin menjadi seorang pastor
tunjukan bahwa kamu bisa.” Kata romo lagi sebelum Allan keluar meninggalkan
ruangan. Allan pun keluar dengan muka yang kusut dan mata yang merah, dan
teman-temannya langsung mengerumuni dia.
***
Suara jangkrik yang saling
bersaut-sautan di malam hari menemani Allan yang tengah melamun sedih
memikirkan kesalahannya, sambil duduk di pinggir kolam diterangi cahaya
rembulan malam. Ia sedang memikirkan ibunya yang tinggal sendirian dirumah
karena ayahnya yang sudah meninggal 5 tahun yang lalu. ibunya bekerja keras
supaya Allan dapat bersekolah di seminari dan menjadi seorang pastor. Ibunya
sangat ingin Allan menjadi seorang pastor walaupun Allan adalah anak tunggal
dan ibunya harus tinggal dirumah sendirian. Pasti ibunya akan sedih dan marah
kepada Allan setelah mengetahui bahwa Allan dikeluarkan karena kesalahan yang
tidak wajar.
“Kamu sudah memberitahu orang tuamu
lan?” tanya Seto menyadarkan Allan dari lamunannya. “Nanti To, tunggu sudah
dirumah aku beritahu ibuku supaya aku dapat menjelaskan semuanya,” Jawab Allan.
“Aku tak menyangka kamu akan dikeluarkan. Aku sangat sedih karena kamu adalah
temanku yang paling baik Lan.” Kata Seto dengan hati-hati supaya tidak menyinggung
perasaan Allan yang sedang sedih. “Ya, beginilah kehidupan To. Sebab
rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah
firman Tuhan. Jadi semuanya ada ditangan Tuhan. Kita tidak tahu rencana Tuhan
jadi kita tinggal jalani saja. Pokoknya kamu harus terus lanjut To, dan menjadi
seorang pastor yang baik!” Jawab Allan. Seto hanya tersenyum saja dan Seto
merasa kagum melihat Allan bisa setegar itu.
***
Setelah 10 jam perjalanan, Allan pun
tiba dirumahnya dengan muka yang lesu, ibunya terkejut ketika melihat Allan
sudah pulang. “Kenapa kamu tidak bilang dulu mau pulang Lan? Biar ibu bisa
siapin makanan buat kamu,” kata ibunya. Allan hanya diam saja, “Kamu kenapa Lan?
Sakit?” tanya ibunya khawatir. Allan langsung membuka tas kecilnya mengeluarkan
sebuah surat dan memberikan kepada ibunya dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Ibunya bingung melihat Allan dan membuka
surat itu dengan perlahan. Setelah dibaca ternyata isi surat itu adalah surat
pindah sekolah. Ibunya sedih dan kecewa setelah membaca surat itu kemudian ibu
itu masuk ke kamar Allan dengan maksud ingin bertanya-tanya. Namun, setelah
melihat Allan tertidur dengan lelap ibunya tak tega untuk membangunkan Allan.
Akhirnya ibunya itu hanya kembali ke kamarnya sendiri dan memikirkan nasib anak tersayangnya itu, namun semuanya
hanya membuat ibu Allan menjadi semakin pusing saja. Kemudian ibu Allan pun
bangkit berdiri dari tempat tidurnya menuju dapur memasak makanan untuk makan
malam.
“Lan, bangun Lan, sudah sore,” kata ibu
Allan dengan lembut sambil menggoncang badan Allan yang sedang terbaring.
“Mandi sana terus makan, ibu sudah menyiapkan makanan buat kamu.” Lanjut ibu
Allan ketika melihat Allan sudah mulai terbangun. Kemudian Allan pun mandi dan
ibunya duduk menunggu di meja makan. Selesai mandi Allan pun duduk di meja
makan dan berdoa sebelum makan. “Mau sekolah dimana kamu nanti?” Kata ibu Allan
memulai percakapan. “Mungkin lebih baik aku tidak sekolah lagi saja bu,
membantu ibu berjualan di pasar saja.” Jawab Allan kepada ibunya.
“Tidak! Mana mungkin kamu tidak sekolah,
mau jadi apa kamu besar nanti!” kata sang ibu dengan tegas.
“Aku bingung bu, mau sekolah dimana kalau
di sini pasti aku malu bu sama teman-temanku dulu. Tapi kalo sekolah di kota lain
pasti membutuhkan biaya yang besar.”
“Kenapa kamu harus malu? Demi masa
depanmu Lan pikirkan itu baik-baik. Ibu tak ingin memarahi kamu.” Jawab ibu
Allan dengan lembut.
“Baiklah bu, saya akan bersekolah di
sini saja. Tapi apakah ibu mempunyai cukup uang untuk membiayaiku untuk
mengurus surat pindah itu membutuhkan biaya yang besar bu.”
“Kamu tenang saja ibu mempunyai cukup
tabungan buat itu semua.”
***
Semua berjalan dengan baik Allan sudah
mulai bersekolah disekolahnya yang baru. Namun sudah 3 minggu Allan tidak ke
gereja sejak ia dikeluarkan dari seminari
ia merasa sangat malu karena ia telah mengecewakan orang lain di gereja
tersebut. Ibunya sudah berusaha membuat Allan untuk mau pergi ke gereja namun
tetap saja ia tidak pergi ke gereja. Hingga akhirnya ibu Allan pun berbicara
kepada pastor paroki tentang keadaan Allan itu supaya Allan dapat dinasehati.
Pada hari sabtu pastor mengunjungi rumah
Allan.
“Permisi bu ada Allan ?” tanya pastor
kepada ibu Allan
“Ada mo, saya panggil di dalam ya mo.” jawabnya
Allan segera keluar “Ada apa mencari
saya mo?” tanya Allan.
“Kamu itu yang kenapa tidak pernah pergi
kegereja?” jawab pastor.
“Maaf mo, saya hanya masih merasa tidak
layak saja,” jawab Allan sambil menundukkan kepalanya.
“Bohong! Itukah yang kamu dapat dari
seminari! Apakah kamu diajari untuk berbohong?” Kata pastor dengan nada yang
tinggi, sedangkan Allan hanya diam saja. “Allan kamu kenapa malu untuk datang
ke gereja? Bukankah motomu dulu akan menguji segala sesuatu dan memegang yang
baik, tapi apa hasilnya sekarang, kamu hanya menjadi seorang pembohong!” Lanjut
pastor lagi.
“Iya mo, maafkan saya, saya juga
menyesal baiklah saya berjanji akan datang ke gereja besok dan akan merubah
diri saya ini mo,” jawab Allan sambil menangis.
“Bagus Allan” jawab pastor dengan
tersenyum merasa puas.
Ibu Allan hanya melihat saja percakapan
dari pastor dan Allan dari kaca jendala rumahnya dengan perasaan yang cemas.
***
Sekarang Allan menjadi rajin ke gereja.
Ia sangat disenangi oleh teman-temannya karena ia baik dan jujur. Ibunya
sendiri juga sangat bangga kepada Allan karena Allan sudah menjadi lebih baik
dan berkembang. Sekarang Allan sedang menghadapi ujian nasional ia dapat
melewatinya dengan baik dan dibekali oleh nilai yang memuaskan hingga mendapat
nilai tertinggi disekolahnya.
“Bu hasil ujianku adalah yang tertinggi
disekolahku,” teriak Allan dari pintu rumahnya mengejutkan ibunya yang sedang
memasak.
“Benarkah Lan?” tanya ibunya dengan
tersenyum lebar.
“Iya bu, dan aku ingin meminta izin
kepada ibu apakah boleh aku daftar ke Seminari lagi? Karena aku merasa masih
ada panggilan dalam diriku ini, setelah aku berhasil melewati semuanya ini
dengan baik bu.”
“benarkah itu Lan? Ibu sangat senang
mendengarnya urusan biaya tidak perlu kamu hiraukan. Asal kan kamu sungguh-sungguh
untuk kali ini.” Jawab ibunya dengan semangat. Ibunya sangat senang mendengar
Allan ingin masuk Seminari lagi karena ibu Allan sangat ingin anaknya menjadi
seorang pastor.
“Tapi, bukannya uang tabungan ibu sudah
habis untuk biaya pindahku dulu?” Tanya Allan dengan lembut.
“Tenang, ibu masih mempunyai emas
peninggalan ayahmu dulu yang dapat ibu jual. Sudah pokoknya kamu tidak perlu
khawatir.”
“Baiklah bu, aku tidak akan jatuh
kedalam kesalahan yang sama lagi.” Jawab Allan dengan semangat.
***
Setelah menempuh pendidikan di Seminari.
Allan sekarang sudah menjadi seorang frater, ia hanya tinggal menunggu waktu
setahun lagi untuk ditahbiskan menjadi seorang pastor. Namun ia mendapat kabar
buruk dari pastor parokinya bahwa ibunya telah meninggal dan telah dimakamkan.
Mendengar hal itu Allan menjadi sangat sedih karena ia telah kehilangan orang
yang paling ia sayangi yang telah mendukungnya sampai saat ini dan ia tidak
dapat melihatnya untuk terakhir kalinya. Ia berpikir bahwa ia sudah sampai sejauh
ini karena ia ingin menjadi pastor dan membahagiakan ibunya tapi sekarang
ibunya sudah tiada dan ia ingin memutuskan untuk keluar dari Seminari. Tapi ia
juga berpikir bahwa pengorbanan ibunya dulu akan sia-sia saja dan jika ia
keluar ia juga tidak akan bertemu ibunya. Jadi, Allan memutuskan untuk tetap
lanjut dan ia yakin bahwa ibunya pasti akan bahagia juga di surga karena
mengetahui pengorbanannya yang tidak sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar