Selasa, 01 Desember 2015

Pengorbanan Demi Masa Depan


Bel tanda berakhirnya ulangan akhir semester II pun telah berbunyi, hingga mengejutkan Allan yang tengah tertidur. Ia telah selesai mengerjakan ulangannya, ulangan matematika di hari terakhir bukanlah suatu masalah bagi Allan, ia dapat mengerjakan semua soal dengan baik. Allan adalah anak yang pintar. Ia segera mengumpulkan lembar jawabannya dan segera keluar dari ruang 36.
Ada satu hal yang harus Allan lakukan sekarang, yaitu bimbingan akhir semester bersama pastor pembimbing. Bimbingan ini menentukan nasib setiap seminaris[1] apakah ia akan lanjut atau tidak. Allan menjadi sedikit tegang ia terus memikirkan dia akan lanjut ke kelas poecis[2] atau akan berakhir di kelas syntaxis[3]saja.
Satu persatu temannya di panggil ke ruangan pastor pembimbing, sudah 30 orang di panggil dan semuanya lanjut dan saat ini giliran Fandi dan masih ada 3 orang lagi yang belum dipanggil termasuk Allan. Allan mearasa cemas karena si Fandi sudah 15 menit didalam ruang romo pembimbing namun belum juga keluar, sedangkan yang lainnya hanya 5 menit saja. Dan dugaan Allan betul, Fandi keluar dengan mata yang merah dan muka yang sedih. Ternyata Fandi tidak lanjut, teman-teman Allan langsung mengerumuni Fandi dan bertanya-tanya. Ketika Allan ingin mendekat namanya sudah dipanggil oleh romo, hingga ia membatalkan niatnya untuk bertanya kepada Fandi. Dengan cemas Allan masuk kedalam ruangan pastor pembimbing, “Silahkan duduk,”  kata pastor.
“Allan apakah kamu yakin akan lanjut ke kelas poecis?” Lanjut romo ketika Allan baru saja duduk.
“Iya mo, saya yakin,” jawab Allan dengan percaya diri.
“Saya hargai kepercayaan dirimu Lan, tapi maaf  Lan tingkah kamu sendiri disini tidak mencerminkan bahwa kamu ingin lanjut ke kelas poecis. Jadi, kamu tidak dapat dilanjutkan ke kelas poecis,” kata romo dengan memberikan sebuah surat kepada Allan. Kata-kata dari pastor tadi membuat Allan terdiam sejenak, hingga Allan pun terbawa emosi yang ia berusaha tahan dan ia pun mulai berkata lagi “Tingkah yang seperti apa yang membuat saya  tidak lanjut, mo?” Tanya Allan lagi berusaha membela diri.
“Apa kamu tidak sadar lan? Kamu sering tidur di kelas saat pelajaran.”
“Saya tertidur karena saya merasa lelah dan merasa bosan saat memperhatikan guru sedang menjelaskan mo, jadi itu hal yang wajar menurut saya.” Jawab Allan sambil mengusap air matanya yang hampir jatuh.
“Baiklah, itu memang hal yang wajar bagimu karena memang kamu adalah anak yang pintar dan bisa menangkap pelajaran dengan baik, tapi kamu telah membuat kesalahan yang fatal menjadi suatu kebiasaanmu Lan, yaitu kamu sering keluar malam. Kamu tahu kan, kalau keluar malam tidak dapat dimaafkan diseminari ini? Itulah penyebab utamanya kamu mengantuk di kelas, kamu keluar tengah malam dan pulang sekitar jam 2. Banyak bukti dan saksi yang saya miliki bahkan ada kesaksian dari temanmu sendiri Lan.” Jawab pastor menjelaskan semuanya.
Allan pun terkejut karena pastor mengetahui semuanya dan ia pun menjawab “Maafkan kesalahan saya mo, saya berjanji akan merubah tingkah saya jika saya dilanjutkan di kelas poecis nanti. Tolong berikan saya kesempatan yang kedua mo, tapi tolong jangan keluarkan saya, kasihan ibu saya mo.”
“Maaf Lan keputusan tetaplah keputusan. Saya bersama staf lain telah mempertimbangkan semua itu dan kamu tidak bisa lagi tinggal disini. Mungkin kamu dapat berkembang dengan baik diluar sana,” kata romo. Allan pun berdiri dan ingin keluar ruangan “Ingatlah! tunjukan bahwa kamu ada perkembangan yang dapat kamu banggakan walapun kamu telah dikeluarkan. Dan ini bukanlah akhir dari segalanya jika kamu memang ingin menjadi seorang pastor tunjukan bahwa kamu bisa.” Kata romo lagi sebelum Allan keluar meninggalkan ruangan. Allan pun keluar dengan muka yang kusut dan mata yang merah, dan teman-temannya langsung mengerumuni dia.
***
Suara jangkrik yang saling bersaut-sautan di malam hari menemani Allan yang tengah melamun sedih memikirkan kesalahannya, sambil duduk di pinggir kolam diterangi cahaya rembulan malam. Ia sedang memikirkan ibunya yang tinggal sendirian dirumah karena ayahnya yang sudah meninggal 5 tahun yang lalu. ibunya bekerja keras supaya Allan dapat bersekolah di seminari dan menjadi seorang pastor. Ibunya sangat ingin Allan menjadi seorang pastor walaupun Allan adalah anak tunggal dan ibunya harus tinggal dirumah sendirian. Pasti ibunya akan sedih dan marah kepada Allan setelah mengetahui bahwa Allan dikeluarkan karena kesalahan yang tidak wajar.
“Kamu sudah memberitahu orang tuamu lan?” tanya Seto menyadarkan Allan dari lamunannya. “Nanti To, tunggu sudah dirumah aku beritahu ibuku supaya aku dapat menjelaskan semuanya,” Jawab Allan. “Aku tak menyangka kamu akan dikeluarkan. Aku sangat sedih karena kamu adalah temanku yang paling baik Lan.” Kata Seto dengan hati-hati supaya tidak menyinggung perasaan Allan yang sedang sedih. “Ya, beginilah kehidupan To. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Jadi semuanya ada ditangan Tuhan. Kita tidak tahu rencana Tuhan jadi kita tinggal jalani saja. Pokoknya kamu harus terus lanjut To, dan menjadi seorang pastor yang baik!” Jawab Allan. Seto hanya tersenyum saja dan Seto merasa kagum melihat Allan bisa setegar itu.

***
Setelah 10 jam perjalanan, Allan pun tiba dirumahnya dengan muka yang lesu, ibunya terkejut ketika melihat Allan sudah pulang. “Kenapa kamu tidak bilang dulu mau pulang Lan? Biar ibu bisa siapin makanan buat kamu,” kata ibunya. Allan hanya diam saja, “Kamu kenapa Lan? Sakit?” tanya ibunya khawatir. Allan langsung membuka tas kecilnya mengeluarkan sebuah surat dan memberikan kepada ibunya dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Ibunya bingung melihat Allan dan  membuka surat itu dengan perlahan. Setelah dibaca ternyata isi surat itu adalah surat pindah sekolah. Ibunya sedih dan kecewa setelah membaca surat itu kemudian ibu itu masuk ke kamar Allan dengan maksud ingin bertanya-tanya. Namun, setelah melihat Allan tertidur dengan lelap ibunya tak tega untuk membangunkan Allan. Akhirnya ibunya itu hanya kembali ke kamarnya sendiri dan memikirkan  nasib anak tersayangnya itu, namun semuanya hanya membuat ibu Allan menjadi semakin pusing saja. Kemudian ibu Allan pun bangkit berdiri dari tempat tidurnya menuju dapur memasak makanan untuk makan malam.
“Lan, bangun Lan, sudah sore,” kata ibu Allan dengan lembut sambil menggoncang badan Allan yang sedang terbaring. “Mandi sana terus makan, ibu sudah menyiapkan makanan buat kamu.” Lanjut ibu Allan ketika melihat Allan sudah mulai terbangun. Kemudian Allan pun mandi dan ibunya duduk menunggu di meja makan. Selesai mandi Allan pun duduk di meja makan dan berdoa sebelum makan. “Mau sekolah dimana kamu nanti?” Kata ibu Allan memulai percakapan. “Mungkin lebih baik aku tidak sekolah lagi saja bu, membantu ibu berjualan di pasar saja.” Jawab Allan kepada ibunya.
“Tidak! Mana mungkin kamu tidak sekolah, mau jadi apa kamu besar nanti!” kata sang ibu dengan tegas.
“Aku bingung bu, mau sekolah dimana kalau di sini pasti aku malu bu sama teman-temanku dulu. Tapi kalo sekolah di kota lain pasti membutuhkan biaya yang besar.”
“Kenapa kamu harus malu? Demi masa depanmu Lan pikirkan itu baik-baik. Ibu tak ingin memarahi kamu.” Jawab ibu Allan dengan lembut.
“Baiklah bu, saya akan bersekolah di sini saja. Tapi apakah ibu mempunyai cukup uang untuk membiayaiku untuk mengurus surat pindah itu membutuhkan biaya yang besar bu.”
“Kamu tenang saja ibu mempunyai cukup tabungan buat itu semua.”
***
Semua berjalan dengan baik Allan sudah mulai bersekolah disekolahnya yang baru. Namun sudah 3 minggu Allan tidak ke gereja sejak ia dikeluarkan dari seminari  ia merasa sangat malu karena ia telah mengecewakan orang lain di gereja tersebut. Ibunya sudah berusaha membuat Allan untuk mau pergi ke gereja namun tetap saja ia tidak pergi ke gereja. Hingga akhirnya ibu Allan pun berbicara kepada pastor paroki tentang keadaan Allan itu supaya Allan dapat dinasehati. Pada hari sabtu pastor  mengunjungi rumah Allan.
“Permisi bu ada Allan ?” tanya pastor kepada ibu Allan
“Ada mo, saya panggil di dalam ya mo.” jawabnya
Allan segera keluar “Ada apa mencari saya mo?” tanya Allan.
“Kamu itu yang kenapa tidak pernah pergi kegereja?” jawab pastor.
“Maaf mo, saya hanya masih merasa tidak layak saja,” jawab Allan sambil menundukkan kepalanya.
“Bohong! Itukah yang kamu dapat dari seminari! Apakah kamu diajari untuk berbohong?” Kata pastor dengan nada yang tinggi, sedangkan Allan hanya diam saja. “Allan kamu kenapa malu untuk datang ke gereja? Bukankah motomu dulu akan menguji segala sesuatu dan memegang yang baik, tapi apa hasilnya sekarang, kamu hanya menjadi seorang pembohong!” Lanjut pastor lagi.
“Iya mo, maafkan saya, saya juga menyesal baiklah saya berjanji akan datang ke gereja besok dan akan merubah diri saya ini mo,” jawab Allan sambil menangis.
“Bagus Allan” jawab pastor dengan tersenyum merasa puas.
Ibu Allan hanya melihat saja percakapan dari pastor dan Allan dari kaca jendala rumahnya dengan perasaan yang cemas.
***
Sekarang Allan menjadi rajin ke gereja. Ia sangat disenangi oleh teman-temannya karena ia baik dan jujur. Ibunya sendiri juga sangat bangga kepada Allan karena Allan sudah menjadi lebih baik dan berkembang. Sekarang Allan sedang menghadapi ujian nasional ia dapat melewatinya dengan baik dan dibekali oleh nilai yang memuaskan hingga mendapat nilai tertinggi disekolahnya.
“Bu hasil ujianku adalah yang tertinggi disekolahku,” teriak Allan dari pintu rumahnya mengejutkan ibunya yang sedang memasak.
“Benarkah Lan?” tanya ibunya dengan tersenyum lebar.
“Iya bu, dan aku ingin meminta izin kepada ibu apakah boleh aku daftar ke Seminari lagi? Karena aku merasa masih ada panggilan dalam diriku ini, setelah aku berhasil melewati semuanya ini dengan baik bu.”
“benarkah itu Lan? Ibu sangat senang mendengarnya urusan biaya tidak perlu kamu hiraukan. Asal kan kamu sungguh-sungguh untuk kali ini.” Jawab ibunya dengan semangat. Ibunya sangat senang mendengar Allan ingin masuk Seminari lagi karena ibu Allan sangat ingin anaknya menjadi seorang pastor.
“Tapi, bukannya uang tabungan ibu sudah habis untuk biaya pindahku dulu?” Tanya Allan dengan lembut.
“Tenang, ibu masih mempunyai emas peninggalan ayahmu dulu yang dapat ibu jual. Sudah pokoknya kamu tidak perlu khawatir.”    
“Baiklah bu, aku tidak akan jatuh kedalam kesalahan yang sama lagi.” Jawab Allan dengan semangat.
***
Setelah menempuh pendidikan di Seminari. Allan sekarang sudah menjadi seorang frater, ia hanya tinggal menunggu waktu setahun lagi untuk ditahbiskan menjadi seorang pastor. Namun ia mendapat kabar buruk dari pastor parokinya bahwa ibunya telah meninggal dan telah dimakamkan. Mendengar hal itu Allan menjadi sangat sedih karena ia telah kehilangan orang yang paling ia sayangi yang telah mendukungnya sampai saat ini dan ia tidak dapat melihatnya untuk terakhir kalinya. Ia berpikir bahwa ia sudah sampai sejauh ini karena ia ingin menjadi pastor dan membahagiakan ibunya tapi sekarang ibunya sudah tiada dan ia ingin memutuskan untuk keluar dari Seminari. Tapi ia juga berpikir bahwa pengorbanan ibunya dulu akan sia-sia saja dan jika ia keluar ia juga tidak akan bertemu ibunya. Jadi, Allan memutuskan untuk tetap lanjut dan ia yakin bahwa ibunya pasti akan bahagia juga di surga karena mengetahui pengorbanannya yang tidak sia-sia.




[1] Anak lelaki yang menjalani pendidikan di seminari
[2] Sebutan kelas di seminari setara dengan kelas XII SMA
[3] Sebutan kelas di seminari setara dengan kelas XI SMA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar